Senin, 26 April 2010

Pemerolehan dan Pengajaran Bahasa (FLE)

BAB I
PENDAHULUAN


Selain pemakaian bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah, di Indonesia terdapat juga pengajaran bahasa asing antara lain bahasa Inggris, bahasa Prancis, bahasa Jerman, bahasa Belanda, bahasa Mandarin, bahasa Jepang, bahasa Korea, dan sebagainya. Bahasa Prancis sebagai bahasa asing diajarkan di sekolah menengah atas dan perguruan tinggi tertentu dan berbagai lembaga pendidikan. Bahasa Prancis sebagai bahasa asing dikenal dengan istilah Le français langue étrangère (FLE). FLE mempunyai kedudukan sebagai bahasa asing bukan bahasa kedua yang artinya FLE tidak akan bersaing dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa daerah sebagai sarana komunikasi masyarakat.
Pengusaan bahasa-bahasa asing khususnya FLE mempunyai peran penting bagi Indonesia terutama dalam era globalisasi saat ini. Pertama, buku-buku dan teks cukup banyak yang tertulis dalam Prancis. Kedua, banyaknya wisatawan Prancis yang mengunjungi Indonesia membutuhkan pemandu wisata yang cakap berbahasa Prancis. Ketiga, Bahasa Prancis merupakan bahasa internasional kedua yang digunakan dalam banyak negara, sehingga penguasaan bahasa Prancis akan bermanfaat sebagai sarana komunikasi antar bangsa. Keempat, mempelajari bahasa Prancis untuk kepentingan sektor pendidikan, pariwisata, politik, dan ekonomi.
Secara garis besar, menguasai suatu bahasa termasuk FLE dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pemerolehan dan pengajaran. Namun, di Indonesia lebih digunakan cara pengajaran untuk mengusai FLE.





BAB II
PEMBAHASAN

A. Perbedaan antara Pemerolehan dan Pengajaran FLE
Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pengajaran dan pembelajaran bahasa bahasa. Pengajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang anak mempelajari bahasa kedua setelah ia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi pemerolehan bahasa berkaitan dengan bahasa pertama, sedangkan pengajaran bahasa berkaitan dengan bahasa kedua.
Untuk menguasai bahasa ibu, anak tidak mempeajarinya terlebih dahulu. Namun, secara alami, pemerolehan bahasa dilakukan dengan mendengar dan menirukan bahasa dari lingkungannya yang telah menjadi kebiasaan. Jika dikaitkan dengan FLE, maka pemerolehan bahasa Prancis terjadi pada anak dari keluarga campuran Indonesia Prancis yang menetap di Indonesia. Bahasa ibu si anak adalah bahasa Indonesia, tetapi ia juga dapat berbahasa Prancis tanpa mempelajarinya karena ia telah memperolehnya dari orang tuanya juga mengajaknya bicara dengan bahasa Prancis, sehingga anak dapat berbahasa Prancis walaupun tinggal di Indonesia.
Pengajaran bahasa Prancis dilakukan untuk mengajarkan bahasa Prancis sebagai bahasa asing di negara selain Prancis dan negara-negara franchophonie. Untuk menguasai bahasa, orang harus mempelajari bahasa tersebut secara formal. Penguasaan bahasa Prancis melalui pengajaran merupakan tindakan atau upaya seseorang untuk belajar bahasa Prancis agar dapat mengusasi bahasa tersebut. Singkatnya, pengajaran atau pembelajaran bahasa kedua adalah usaha sadar dalam mempelajari bahasa kedua dengan maksud dan tujuan tertentu.

B. Pemerolehan Bahasa Prancis sebagai Bahasa Asing
Stephen Krasen (1984) menyatakan bahwa teori pemerolehan B2 (Bahasa kedua) adalah bagian dari linguistik teoritik karena bersifat abstrak. Menurutnya, dalam pengajaran B2 yang praktis adalah teori yang paling baik. Istilah bahasa kedua digunakan untuk menggambarkan bahasa-bahasa yang pemerolehannya atau penguasaannya dipelajari setelah menguasai bahasa pertama. Bahasa-bahasa yang dipelajari tersebut juga dikenal dengan istilah bahasa target (target language).
Pemerolehan bahasa kedua tidak seperti pada pemerolehan bahasa pertama. Pada pemerolehan bahasa pertama, siswa berawal dari nol (dia belum menguasai bahasa apa pun) dan perkembangan pemeroleh bahasanya seiring dengan perkembangan fisik dan psikisnya. Selain itu pemerolehan bahasa pertama dilakukan secara informal dengan motivasi tinggi agar dapat berkomunikasi dengan orang-orang disekelilingnya., sedangkan pemerolehan bahasa kedua dilakukan secara formal dengan motivasi siswa yang tidak terlalu tinggi karena bahasa tersebut tidak digunakan untuk berkomunisa dengan masyarakat siswa tersebut.
Pemerolehan bahasa kedua sering dipertentangkan dengan pembelajaran bahasa kedua dengan asumsi bahwa keduanya melalui proses yang berbeda. Secara singkat, pemerolehan bahasa kedua dalam Rombepajung (1988: 99) adalah proses mempelajari suatu bahasa selain bahasa ibu secara baik sadar maupun tidak sadar, baik dalam lingkungan formal maupun tidak. Pemerolehan tersebut meliputi fonologi, leksikon, tata bahasa, dan pengetahuan praktis. Namun, sebagian besar ditekankan pada morfosistaksis.

C. Pengajaran Bahasa Prancis sebagai Bahasa Asing
Tujuan utama pengajaran Bahasa Prancis sebagai bahasa Asing adalah agar siswa mampu mengusasi empat keterampilan bahasa Prancis. Adapun empat keterampilan tersebut adalah keterampilan mendengar (Comprehension Orale), berbicara (Exspression Orale), membaca (Comprehension Écrit), dan menulis (Expression Écrit). Selain itu, tujuan lainnnya adalah agar siswa mampu berkomunikasi menggunakan bahasa asing, tujuan profesi, dan dapat mempelajari kebudayaan negara asal bahasa tersebut.
Terdapat dua pendekatan utama dalam pengajaran bahasa yaitu pendekatan formalis yang bertahan cukup lama dan pendekatan fungsionalis yang relatif baru pada tida dekade terakhir. Menurut pendekatan formalis, bahasa adalah bentuk. Maka pengajarannya adalah berpusat pada pengajaran bentuk-bentuk bahasa. Sedangkan pengajaran fungsional lebih menekankan pada aspek fungsi bahasa. Terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam pengajaran bahasa, yaitu:
1. Kemampuan bahasa
Saat seseorang ingin mempelajari bahasa asing secara formal, maka yang lebih baik adalah mengikuti tes kemampuan bahasa (language aptitude test). Tes ini terbukti cukup efektif untul memprediksi siswa yang akan sukses di pembelajaran bahasa asing, seperti contohnya tes keterampilan bahasa yang dilakukan oleh jurusan bahasa Inggris, FBS, UNY dan placement test yang dilakukan oleh lembaga kursus.
2. Usia
Sebagian besar masyarakat meyakini bahwa untuk belajar bahasa asing akan lebih baik dilakukan ketika masih anak-anak. Belajar pada usia dewasa akan terasa lebih sulit. Namun, penelitian menunjukkan bahwa orang dewasa yang belajar bahasa kedua tetap dapat mencapai tingkat keberhasilan yang cukup tinggi. Program pembelajaran bahasa berupa immersion, yaitu pembelajaran dengan terjun langsung ke lingkungan penutur asli, orang dewasa lebih cepat memperoleh bahasa kedua dibanding anak-anak. Hal ini disebabkan otak orang dewasa lebih sempurna dan ia memiliki pengalaman berbahasa dibandingkan anak-anak.

3. Strategi yang digunakan
Penggunaan strategi yang efektif sangat penting agar pembelajaran bahasa asing dapat berhasil. Secara umum strategi pembelajaran bahasa terbagi menjadi dua, yaitu strategi belajar dan strategi komunikasi. Strategi belajar adalah strategi yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar bahasa asing, misalnya penggunaan kamus. Sedangkan strategi komunikasi adalah strategi yang digunakan siswa bahasa kedua untuk dapat berkomunikasi menggunakan bahasa tersebut, misalnya saat berbincang dengan penutur asli.
4. Motivasi
Penelitian menunjukkan bahwa motivasi berkaitan dengan tingkat keberhasilan seseorang. Siswa yang memiliki motivasi yang kuat akan sukses dan kesuksesan yang diperolehnya itu akan semakin meningkatkan motivasinya. Motivasi bukanlah suatu yang bersifat stagnan, tetapi sangat dipengaruhi oleh diri sendiri dan lingkungan, salah satunya adalah teknik dan metode pengajaran yang digunakan guru.
Dalam pengajaran bahasa Prancis sebagai bahasa Asing, terdapat sepuluh metode utama yaitu:
1. metode terjemahan tata bahasa
2. metode langsung
3. metode audiolingual
4. pendekatan kognitif
5. pendekatan ganda
6. responsi fisik total
7. pendekatan alamiah
8. belajar bahasa masyarakat
9. cara diam
10. sugestopedia


D. Pengajar dan Siswa dalam Pengajaran Bahasa
Dua komponen paling utama dalam pengajaran bahasa adalah pengajar dan siswa. Fungsi pengajar dalam pengajaran bahasa Prancis masih sangat penting khususnya di Indonesia sehingga para pengajar dituntut kualitas, profesionalitas, dan responsibilitasnya dalam menyampaikan studinya pada siswa. Di sini, bahasa Prancis diajarkan secara formal oleh Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Perguruan Tinggi (PT). Sedangkan secara nonformal, pengajaran bahasa Prancis dilakukan oleh CCF dan lembaga kursus bahasa.
Pengajar mempunyai banyak peran, antara lain sebagai pengajar, fasilitator, motivator, organisator, yang dituntut memiliki kompetensi sebagai pengajar. Pada zaman sekarang, pengajar harus mampu memposisikan diri sebagai pengajar dan pembelajar yang berarti pengajar merupakan mitra belajar siswa. Sehingga pengajar pun dapat belajar pada pembelajaran yang ia lakukan untuk meningkatkan kualitasnya dalam mengajar. Lain dengan zaman dahulu, yang antara pengajar dan siswa memiliki hubungan vertikal, sekarang hubungan antara keduanya adalah horisontal. Sehingga pembelajaran sekarang lebih interaktif.
Berikut merupakan perbedaan antara metode pengajaran tradisional dan pengajaran interaktif.
Skema 1: Sistem kelas Skema 2: Sistem grup dalam kelas
Siswa (S1)

(S2) (S3)
1.


(S4) pengajar
Efektifitas pengajaran bahasa di suatu negara masih sebagian besar bergantung pada tenaga pengajar. Untuk itu seorang pengajar hendaknya mempunyai keterpaduan antara kualitas pribadi (intelegensia, kepribadian, dan kematangan emosionalnya), keterampilan teknis (memaksimalkan pembelajaran siswa, dapat mengendalikan kegiatan di dalam kelas,dan kemampuan penyajian bahasa pelajaran) dan pengertian profesional tentang pekerjaannya sebagai pendidik.
Dalam Rombepajung (1988: 10-11), latihan-latihan yang diharapkan pada pembibitan guru bahasa yang ideal pada umumnya mencakup tiga komponen yaitu komponen keterampilan, komponen informasi, dan komponen teori. Komponen keterampilan mencakup penguasaan teknik mengajar, penguasaan bahasa yang diajarkan, serta kemampuan melaksanakan evaluasi. Komponen informasi meliputi pengetahuan tentang seluk-beluk pendidikan, pengenalan tentang silabus dan pengenalan terhadap sifat bahasa yang diajarkan. Komponen teori mencakup pemilihan yang tepat terhadap penemuan-penemuan teoritis di bidang filsafat pendidikan, psikologi linguistik, linguistik terapan dan sebagainya. Jadi unsur pendidikan pengajar yang ideal akan sangat membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran.
Siswa merupakan sasaran terakhir dari keseluruhan unsur yang telah dibicarakan. Setiap siswa bahasa asing terdiri dari individu yang memiliki sifat tersendiri yang membedakannya dari siswa lain di samping adanya sifat-sifat atau karakter umum sebagai insan manusia. Perbedaan-perbedaan yang terdapat pada siswa secara umum dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:
1. Kelompok yang memiliki motivasi tinggi serta bersedia belajar, memiliki kemampuan bahasa, memiliki pengalaman belajar bahasa asing, dan pengalaman pendidikan umum.
2. Kelompok yang memiliki rata-rata belajar yang optimal serta lebih gemar belajar sendiri dan keinginan untuk berhasil sangt rendah.

E. Evaluasi
Pembelajaran dan pengajaran bahasa memerlukan sitem balikan yang merupakan petunjuk untuk mengetahui kemajuan yang telah dicapai serta dapat menginformasikan kepada mereka yang sedang terlibat dalam proses pembelajaran dan pengajaran tersebut dapat dilaksanakan. Evaluasi juga dapat digunakan untuk administrasi kegiatan sosial, seleksi untuk pendidikan lanjutan, serta dapat dipergunakan sebagai bukti dapat tidaknya seseorang diterima di dalam pelbagai lapangan pekerjaan.
Secara garis besar terdapat dua jenis evaluasi yaitu kontrol dan formatif. Sistem kontrol dilakukan dengan cara mengecek kesesuaian performance dari siswa. Yang dilanjutkan dengan penilaian prestasi siswa yang menggunakan berbagai seperti tes, tugas, ujian semester, dan ujian akhir, . Yang ditandai denga hasil akhir sebuah nilai. Evaluasi ini bersifat wajib yang berlaku bagi seluruh siswa dalam suatu kelas. Selain itu, evaluasi model kontrol terdapat sanksi jika tidak mengikutinya. Sanksi berupa susulan atau diganti dengan tugas lain. Setelah terkumpul selama periode yang ditetapkan, misalnya UAS per semester maupun ujian akhir siswa akan mendapat suatu tanda bukti hasil pembelajaran yang selama ini dicapai, semisal raport, KHS, DHS, dan sertifikat. Bagi pembelajar bahasa Prancis, siswa dapat memeroleh sertifikat setelah ia mengikuti tes DELF, DALF dan ijazah lainnya.
Evaluasi model kedua yaitu evaluasi formatif yang berdasarkan atas segala informasi atau pengetahuan yang telah didapat siswa yang kriteria ditentukan oleh pengajar. Untuk itu, digunakan data penilaian terhadap masing-masing siswa, tes, dan tugas-tugas. Kemudian pengajar mengevaluasi dengan memberikan komentar-komentar mengenai apa yang telah dicapai siswa, mengoreksi dan melengkapinya. Hasil akhirnya siswa dapat mengetahui seberapa tingkat kompetensi yang telah dicapainya.


F. Bahasa Antara (Interlanguage)
Bahasa antara (Interlanguage) adalah bahasa yang mengacu kepada sistem B1 dan kedudukannya berada di antara B1 dan B2 (Selingker, 1972). Tahapan perkembangan bahasa antara menurut Corder (1973) sebagai berikut:
1. Tahapan kegalatan acak
Pertama, si-belajar berkata “Mary cans dance” yang kemudian diganti menjadi “Mary can dance”
2. Tahapan kebangkitan
Pada tahapan ini, si-belajar mulai menginternalisasikan beberapa kaidah bahasa kedua tetapi ia belum mampu membetulkan kesalahan yang dibuat penutur lain.
3. Tahapan sistematik
Si-belajar sudah mampu menggunakan B2 secara konsisten walaupun kaidah B2 belum sepenuhnya dikuasainya.
4. Tahapan stabilisasi
Si-belajar relatif menguasai sistem B2 dan dapat menghasilkan bahasa tanpa banyak kegalatan atau pada tingkat post systematic menurut Corder.
Pada masyarakat pengguna B2 juga sering menggunakan bahasa pidgin, yaitu campuran yang terjadi akibat penerapan dua atau tiga bahasa di dalam percakapan sehari-hari.









BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
Terdapat dua cara untuk menguasai bahasa, yaitu dengan cara pemerolehan bahasa dan pengajaran bahasa. Pemerolehan bahasa mengandung pengertian penguasaan bahasa pertama (bahasa ibu) yang terjadi sejak kanak-kanak, sedangkan pengajaran bahasa cenderung digunakan untuk menguasai bahasa kedua, walaupun pada kenyataannya bahasa pertama juga sebagai bahan pengajaran di lembaga pendidikan. Pemerolehan bahasa meliputi fonologi, leksikon, tata bahasa, dan pengetahuan praktis. Namun, sebagian besar ditekankan pada morfosistaksis.
Pengajaran bahasa Prancis sebagai bahasa Asing dilakukan di SMA/SMK, Perguruan Tinggi, lembaga kursus dan CCF. Tujuan utama pengajaran Bahasa Prancis sebagai bahasa Asing adalah agar siswa mampu mengusasi empat keterampilan bahasa Prancis. Adapun empat keterampilan tersebut adalah keterampilan mendengar (Comprehension Orale), berbicara (Exspression Orale), membaca (Comprehension Écrit), dan menulis (Expression Écrit). Selain itu, tujuan lainnnya adalah agar siswa mampu berkomunikasi menggunakan bahasa asing, tujuan profesi, dan dapat mempelajari kebudayaan negara asal bahasa tersebut. (nATIQ '09)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ayo, posting comment Anda demi perbaikan