Senin, 26 April 2010

Teori Belajar Constructivisme

Natiqotul Muniroh ALIRAN CONSTRUCTIVISM II
07204241003
L’Enseignement du FLE

1. Pemahaman materi dari penyaji:
Aliran Konstruktivisme menurut seperti yang disampaikan uki dalam presentasinya adalah siswa dapat memperoleh pengetahuan dari lingkungan. Hal ini diambil dari teori John Dewey yang mengatakan bahwa siswa dapat belajar sendiri untuk mencari informasi dari lingkungan di sekelilingnya, sehingga tidak tergantung pada guru/dosen. Sehingga kita belajar tidak hanya untuk mendapatkan nilai saja, tetapi agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari0hari.
Pembentukan identitas (bahasa) individu dipengaruhi oleh lingkungan. Manusia diibaratkan seperti kertas kosong, dimana perilaku dan bahasa seseorang ditentukan dimana ia tinggal. Dalam hal tersebut, fungsi bahasa menjamin pemeliharaan sosial. Konstruktivisme berkaitan dengan interlanguage variability dan interacsionist. Interaksi diperlukan dalam pembelajaran bahasa kedua, dan dari berbagai pengalaman yang diperoleh tersebut akan dikonstruksi ke dalam diri siswa. Fungsi interaksi bahasa memungkinkan mereka membangun kontak sosial serta saluran komunikasi tetap terbuka. Interaksi yang diperlukan untuk mencapai hasil yang maksimal mempunyai 5 unsur yaitu: saling ketergantungan fisik, tatap muka, komunikasi antar anggota, tanggung jawab perorangan dan evaluasi proses berkelompok.

2. Membandingkan pemahaman materi antara penyaji dan pemahaman sendiri:
Pada awalnya saya sepaham dengan apa yang diuraikan penyaji bahwa aliran konstruktivisme menekankan pada siswa untuk aktif membangun pengetahuannya dari pengamatan yang dilakukan terhadap lingkungannya, seperti yang teori John Dewey. Siswa mampu membangun pengetahuannya dari pengalaman yang ia peroleh dari lingkungan, tapi disini juga ditekankan bahwa ketika siswa membangun pengetahuannya ia membutuhkan proses berfikir yang terjadi pada otaknya. Sehingga siswa bukanlah seperti piring kosong yang bisa dipengaruhi oleh lingkungannya, tapi siswa dapat memperoleh pengetahuan dari pengamatan dan proses berfikir siswa tersebut. Ia akan bisa membedakan hal yang baik dan buruk yang teerjadi pada lingkungannnya. Dalan aliran konstruktivisme yang dipentingkan adalah proses bukan hasil akhir dari pembelajaran. Untuk itu, pendidikan dengan teori konstruktivisme penting untuk diterapkan untuk membangun kognisi dan mentalitas siswa untuk mempersiapkan menjadi manusia yang tangguh terhadap permasalahan yang terjadi pada lingkungannya. Sehingga siswa tidak hanya menerima pengetahuan, budaya, paham, perilaku dari lingkungannya saja, tetapi siswa mampu menyeleksi semua informasi yang masuk , diolah dalam otak dan menerapkan hal-hal yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ayo, posting comment Anda demi perbaikan